INDOSEXASIA - Minggu kemarin saya memiliki orang sebelah baru yang tinggal disamping rumahku. Sehabis saya tanya- tanya nyatanya yang pindah disamping rumahku tersebut merupakan pasnagan suami istri yang baru saja menikah. Yang pria namanya Nisfi usianya dekat 35 tahunan serta yang perempuan namanya Diah usianya dekat 24 tahunan. Kala saya awal memandang mereka berdua saya telah mengenali jika jarak usia antara mereka berdua sangat jauh, nampak dari wajah laki- lakinya yang telah menua.
Tetapi saya sangat tertarik sekali dengan wanitanya yang bernama Diah tersebut. Ia telah muda, menawan, serta pula mempunyai tubuhyang sangat aduhai dengan bentuk badan besar dekat 167cm, berat tubuh 57kg, serta tubunya dihiasidengan buah dada yang cukup besar dekat 36B serta pula pntatnya yang sangat menggoda, tidak sangat besar tetapi nampak sangat padat serta berisi. Sangat saya sangat nafsu pada Diah.
Entah kenapa, seketika saja timbul persoalan bandel di otakku. Apakah Istri semacam itu memanglah mempunyai kesetiaan yang betul- betul tulus serta jauh dari benak macam- macam terhadap suaminya? Sebutlah misalnya berhayal pada sesuatu kala dapat melaksanakan petualangan intim dengan lelaki lain?
Apakah seseorang istri semacam itu sanggup bertahan dari godaan seks yang kokoh, bila pada sesuatu kala, ia terposisikan secara paksa kepada sesuatu keadaan yang memungkinkannya bermain seks dengan laki- laki lain? Apakah dalam suasana semacam itu, ia hendak melawan, menolak secara total walaupun keselamatannya terancam? Ataupun apakah ia malah melihatnya bagaikan kesempatan buat dimanfaatkan, dengan dalih ketidakberdayaan sebab terletak dibawah ancaman? Pertanyaan- pertanyaan itu, secara kokoh menyelimuti otak dudaku yang memanglah kotor serta suka berhayal tentang penyimpangan intim.
Sekalian pula kesimpulannya melahirkan suatu rencana biadab, yang jelas sarat dengan efek dosa serta hukum yang berat. Saya mau memperkosa Diah! Wuah! Tetapi seperti itu memanglah tekad yang terbangun kokoh di otak binatangku. Suatu yang membuat kamu mulai hari itu, secara diam- diam melaksanakan pengamatan serta riset intensif terhadap pendamping suami istri muda tersebut. Kuamati, kapan keduanya mulai bangun, mulai tidur, makan serta bercengkrama. Kapan saja sang Suami bepergian ke luar kota lebih dari satu malam, sebab tugas perusahaannya suatu distributor perlengkapan elektronik yang lumayan besar. Dengan kata lain, kapan Diah, perempuan dengan sejoli buah dada serta pinggul yang montok sintal itu tidur sendirian di rumahnya.
Buat dikenal, pendamping ini tidak memiliki pembantu. Dikala seperti itu yang bakal kupilih buat momentum memperkosanya. Menikmati bangun serta lekuk- lekuk badannya yang memancing gairah, sembari menguji energi tahan kesetiaannya bagaikan istri yang dapat kukategorikan cukup setia. Karena tiap suaminya bepergian ataupun lagi keluar, perempuan ini cuma mengunci diri di dalam rumahnya. Sepanjang ini apalagi ia tidak sempat kulihat walaupun cuma buat duduk- duduk di terasnya yang besar. Itu karakteristik Bunda Rumah Tangga yang konservatif serta kukuh memegang tradisi sopan- santun budaya perempuan timur yang sangat menghormati suami.
Walaupun bisa jadi mereka siuman, seseorang suami, yang terkesan sesetia apapun, bila memiliki kesempatan serta peluang buat bermain edan, gampang terjebak ke situ. Saya ketahui suaminya, sang Nisfi senantiasa bepergian keluar kota satu ataupun 2 malam, tiap hari Rabu. Apakah betul- betul buat keperluan kantornya, ataupun dapat jadi menyambangi perempuan simpanannya yang lain. Serta itu bukan urusanku. Yang berarti, pada Rabu malam seperti itu saya hendak melakukan aksi biadabku yang mendebarkan. Seluruh tahapan aksi yang hendak kulakukan terhadap perempuan yang di mataku terus menjadi menggairahkan itu, kususun dengan cermat
Saya hendak menyelinap ke rumahnya cuma dengan menggunakan celana training minus celana dalam, dan pakaian kaos ketat yang mengukir wujud badan bidangku. Buat Kamu tahu, saya laki- laki macho dengan penampilan menarik yang mudah memforsir perempuan yang berpapasan denganku umumnya melirik. Momen yang kupilih, merupakan pada dikala Diah hendak tidur. Sebab berdasarka hasil pengamatanku, cuma pada dikala itu, ia tidak berkebaya, hanya menggunakan daster tipis yang( bisa jadi) tanpa kutang. Saya tidak sangat tentu soal ini, sebab hanya dapat menyaksikannya sekelebat saja melalui metode mengintip dari balik kaca jendelanya 2 hari kemudian. Jika Diah hanya berdaster, berarti saya tidak butuh disibukkan buat membebaskan stagen, pakaian, kutang dan kain yang membalut badannya jika lagi berkebaya. Lagi kenapa saya hanya menggunakan training spack tanpa celana dalam, ketahui sendirilah.
Saya menyelinap masuk ke dalam rumahnya melalui pintu dapur yang terbuka petang itu. Dikala Diah berangkat mengambil jemuran di kebun belakangnya, saya kilat bersembunyi di balik tumpukan karton kemasan barang- barag elektronik yang ada di sudut ruangan dapurnya. Dari situ, dengan tabah serta terus berupaya buat mengatur diri, perempuan itu kuamati saat sebelum ia masuk ke kamar tidurnya. Dengan menggunakan daster tipis serta nyatanya benar tanpa kutang kecuali celana dalam di baliknya.
Sang Istri Setia itu mengecek kunci- kunci jendela serta pintu rumahnya. Dari dalam kamarnya terdengar suara kegiatan tv lumayan nyaring. Nah, pada dikala ia hendak masuk ke kamar tidurnya seperti itu, saya lekas merambah tahapan berikut dari strategi memperkosa perempuan bertubuh sintal ini. Ia kusergap dari balik, sebelah tanganku menutup mulutnya, lagi tangan yang lain secara kokoh mengunci kedua tangannya. Diah nampak tersentak dengan mata terbeliak lebar sebab kaget sekalian panik serta ketakutan. Ia berupaya meronta dengan keras. Tetapi semacam adegan biasa di film- film yang memperagakan ulah para bajingan, saya kilat mengingatkannya buat senantiasa diam serta tidak berperan bodoh melaksanakan perlawanan. Cuma kelainannya, saya pula mengutarakan permintaan maaf.
Maafkan aku Mbak. Aku tidak tahan buat tidak memeluk Mbak. Percayalah, aku tidak hendak menyakiti Mbak. Serta aku bersumpah cuma melaksanakan ini sekali. Sekali saja,” bisikku membujuk dengan napas memburu akibat nafsu serta rasa tegang luar biasa.
Diah senantiasa tidak hirau. Ia berupaya mengamuk, menendang- nendang dikala kakiku menutup pintu kamarnya serta badannya kepepetkan ke dindingKalau Mbak ribut, hendak ketahuaan orang. Kita berdua dapat sirna sebab malu serta aib. Seluruh ini tidak hendak dikenal orang lain. Aku bersumpah merahasiakannya hingga mati, sebab aku tidak ingin dikenal orang lain bagaikan pemerkosa,” bisikku lagi dengan senantiasa mengunci segala gerakan badannya.
Tahapan berikutnya, merupakan menciumi bagian leher balik serta kuping perempuan beraroma badan harum memicu itu. Lagi senjataku yang keras, tegang, perkasa serta penuh urat- urat besar, kutekankan secara keras ke belahan pantatnya dengan gerakan memutar, membuat Diah terus menjadi terjepit di bilik. Ia berupaya terus menjadi kalap melawan serta meronta, tetapi apalah maksudnya tenaga seseorang perempuan, di hadapan laki- laki perkasa yang lagi dipahami nafsu fauna semacam diriku.
Aksi menciumi serta menekan pantat Diah terus kulakukan hingga lebih kurang 10 menit. Sehabis memandang terdapat kesempatan lebih baik, dengan gerakan sedini kilat, dasternya kusingkapkan. Celana dalamnya lekas kutarik hingga sobek ke dasar, serta saat sebelum perempuan ini ketahui apa yang hendak kulakukan, belahan pantatnya lekas kubuka serta lubang anusnya kujilati secara buas. Diah terpekik. Sebelah tanganku dengan gesit setelah itu menyelinap masuk diantara selangkangannya dari balik serta meraba dan meremas bagian luar kemaluannya, tetapi membiarkan bagian dalamnya tidak terjamah.
Strategiku menegaskan belum waktunya hingga ke situ. Aksi menjilat serta meremas dan mengusap- usap ini kulakukan sepanjang sebagian menit. Diah terus berupaya membebaskan diri sembari memintaku menghentikan aksi yang disebutnya jahanam itu. Ia berulang- ulang menyebutku fauna serta bajingan. Tidak soal. Saya memanglah telah jadi fauna bajingan. Serta saat ini si bajingan telah tanpa celana, telanjang sebagian.
Hendak kulaporkan ke suamiku,” ancamnya setelah itu dengan napas terengah- engah.
Saya tidak menyahut sembari bangkit berdiri dan menciumi pundaknya. Kemudian melekatkan batang perkasaku yang besar, tegang serta panas diantara belahan pantatnya. Menekan serta memutar- mutarnya dengan kokoh di situ. Lagi kedua tanganku menyusup ke depan, meraba, meremas serta memainkan puting buah dada besar dan montok perempuan yang terus berjuang buat meloloskan diri dari musibah itu.
“ Tolong Mas Dartam, lepaskan saya. Kasihani saya,” ratapnya.
Saya lekas menciumi leher serta balik telinganya sembari berbisik buat membujuk, sekalian memprovokasi.
Kita hendak bersama menemukan kepuasan Mbak. Tidak terdapat yang rugi, sebab pula tidak hendak terdapat yang ketahui. Suamimu lagi keluar kota. Bisa jadi pula ia lagi bergulat dengan perempuan lain. Apakah kau yakin ia setia semacam dirimu,” bujukku mesra.
“ Kau bajingan terkutuk,” pekiknya dengan marah.
Bagaikan jawabannya, badan putih yang montok serta harum itu( karakteristik yang sangat kusenangi) kali ini kupeluk kuat- kuat, kemudian kuseret ke atas ranjang serta menjatuhnya di situ. Setelah itu kubalik, kedua tangannya kurentangkan ke atas. Berikutnya, ketiak yang berbulu halus serta basah oleh keringat kepunyaan perempuan itu, mulai kuciumi. Dari situ, ciumanku meluncur ke sejoli buah dadanya. Menjilat, menggigit- gigit kecil, dan menyedot putingnya yang terasa membeku tegang.
“ Jangan Mas Darta. Jangan.. Tolong lepaskan saya.”
Perempuan itu menggeliat- geliat keras. Masih senantiasa berupaya buat membebaskan diri. Namun saya terus berperan terus menjadi jauh. Kali ini yang jadi sasaranku merupakan perutnya. Kujilat habis, saat sebelum pelan- pelan merosot turun lebih ke dasar kemudian berputar- putar di bukit kemaluannya yang nyatanya menggunung besar, mirip roti. Sedangkan tanganku meremas serta mempermainkan buah dadanya, kedua batang paha putih serta mulusnya yang menjepit rapat, berupaya kubuka.
Diah dengan kalap berupaya bangun serta mendesak kepalaku. Kakinya menendang- nendang agresif. Saya kilat menjinakkannya, saat sebelum kaki serta dengkul yang liar itu secara telak membentur 2 biji kejantannanku. BandarQ Dapat celaka bila itu terjalin. Jika saya semaput, perempuan ini tentu lolos. Sehabis berjuang lumayan keras, kedua paha Diah kesimpulannya sukses kukuakkan. Setelah itu dengan kemampuan melaksanakan cunnilingus yang kumiliki dari hasil belajar, berteori serta berpraktek sepanjang ini, lubang serta bibir kelamin perempuan itu mulai jadi target lidah serta bibirku.
Tanpa siuman Diah terpekik, dikala kecupan serta game ujung lidahku melekat kokoh di klitorisnya yang membeku tegang. Kulakukan bermacam sapuan serta dorongan lidah ke bagian- bagian sangat sensitif di dalam liang senggamanya, sembari tanganku terus mengusap, meremas serta memijit- mijit kedua buah dadanya. Diah menggeliat, terguncang serta tergetar, kadangkala menggigil, menahan akibat dari seluruh aksi itu. Kepalanya digeleng- gelengkan secara keras. Entah statment menolak, ataupun apa.
Sembari melaksanakan perihal itu, mataku berupaya mencermati permukaan perut sang Istri Setia ini. Dari situ saya dapat menekuni respon otot- otot badannya, terhadap gerakan lidahku yang terus menyeruak masuk dalam ke dalam liang senggamanya. Dengan sentakan- sentakan serta gelombang di bagian atas perut itu, saya hendak ketahui, di titik serta bagian mana Diah hendak merasa lebih terangsang serta nikmat.
Gelombang rangsangan yang kokoh itu kusadari mulai menyerang Diah secara raga serta emosi, kala perlawanannya melemah serta kaki dan kepalanya bergerak terus menjadi resah. Tidak terdapat suara yang keluar, sebab perempuan ini menutup apalagi menggigit bibirnya. Geliat badannya bukan lagi refleksi dari penolakan, namun( bisa jadi) cerminan dari seorang yang mati- matian lagi menahan kenikmatan. Kesekian kali kurasakan kedua pahanya bergetar. Kemaluannya banjir membasah.
Nyatanya benar analisa otak kotorku sebagian minggu kemudian. Kalau sesetia apapun seseorang Istri, terdapat dikala di mana benteng kesetiaan itu ambruk, oleh rangsangan intim yang dicoba dalam tempo relatif lama secara paksa, langsung, intensif dan tersembunyi oleh seseorang laki- laki ganteng yang pakar dalam permasalahan seks. Diah sudah jadi contoh dari perihal itu. Bisa jadi pula ketidakberdayaan yang sudah buatnya memilah buat pasrah. Namun rasanya saya percaya lebih oleh gelora nafsu yang bangkit mau mencari pelampiasan akibat rangsangan yang kulakukan secara intensif serta pakar di segala bagian sensitif badannya.
Aksiku berikutnya merupakan dengan memutar badan, terletak di atas Diah, memposisikan batang kejantananku pas di atas wajah perempuan yang telah mulai membara terbakar nafsu birahi itu. Saya mau mengenali, apa reaksinya bila terus kurangsang dengan batang perkasaku yang besar serta hangat pas terletak di depan mulutnya. Wajahku sendiri, masih terletak diantara selangkangannyadengan lidah serta bibir terus menjilat dan menghirup klitoris serta liang kewanitaannya.
Paha Diah sendiri, entah secara siuman ataupun tidak, terus menjadi membuka lebar, sehingga membagikan kemudahan bagiku buat menikmati kelaminnya yang telah membanjir basah. Mulutnya berulangkali melontarkan jeritan kecil tertahan yang bercampur dengan desisan. Aksi itu kulakukan dengan intensif serta penuh nafsu, sehingga kesekian kali kurasakan paha dan badan perempuan menawan itu bergetar serta berkelojotan.
Sebagian menit setelah itu tiba- tiba kurasa suatu barang basah yang panas menyapu batang kejantananku, membuatku jadi agak tersentak. Aha, terlebih itu jika bukan lidah sang Istri Setia ini. Berarti, selesailah telah segala perlawanan yang dibangunnya demikian gigih serta habis- habisan tadi. Perempuan ini sudah menyerah. Tetapi sayang, jilatan yang dikerjakannya tadi tidak diulanginya, walaupun batang kejantananku telah kurendahkan sedemikian rupa, sehingga membolehkan mulutnya buat menelan bagian kepalanya yang telah sangat keras, besar serta panas itu.
Boleh jadi perempuan ini merasa ia sudah menghianati suaminya bila melaksanakan perihal itu, menghirup batang kejantanan laki- laki yang memperkosanya! Tidak apa. Yang berarti saat ini, saya ketahui ia telah menyerah. Saya kilat kembali membalikkan badan. memposisikan batang kejantananku pas di depan bukit kewanitaannya yang telah merekah serta basah oleh cairan serta air ludahku. Saya mulai menciumi pipinya yang basah oleh air mata serta lehernya. Setelah itu kedua belah ketiaknya. Diah menggelinjang liar sembari membuang mukanya ke samping. Tidak mau bertatapan denganku.
Buah dadanya kujilati dengan buas, setelah itu berupaya kumasukan sedalam- dalamnya ke dalam mulutku. Badan Diah mengejang menahan nikmat. Aksi itu kupertahankan sepanjang sebagian menit. setelah itu batang kejantananku terus menjadi kudekatkan ke bibir kemaluannya. Ah.., perempuan ini rasanya telah mulai tidak tabah menerima batang panas yang besar serta hendak penuhi segala liang sanggamanya itu. Sebab kurasa pahanya membentang terus menjadi lebar, sedangkan pinggulnya agak dinaikan membuat lubang sanggamanya terus menjadi menganga merah.
“ Mbak Mar sangat menawan serta memicu sekali. Cuma lelaki yang beruntung bisa menikmati badanmu yang luar biasa ini,” gombalku sembari menciumi pipi serta lehernya.
Saat ini punyaku hendak merambah memiliki Mbak. Saya hendak membagikan kenikmatan yang luar biasa pada Mbak. Saat ini nikmatilah serta kenanglah kejadian ini sejauh hidup Mbak.
Sehabis berkata perihal itu, sembari menarik otot di dekat anus serta pahaku supaya ketegangan kelaminku terus menjadi bertambah besar, liang kenikmatanwanita desa yang bermata bundar jelita itu, mulai kuterobos. Diah terpekik, badannya menggeliat, tetapi kutahan. Batang kejantananku terus merasuk terus menjadi dalam serta dalam, hingga kesimpulannya tenggelam penuh di atas bukit kelamin yang montok berbulu itu.
Buat sesaat, tubuhku pula turut bergetar menahan kenikmatan luar biasa pada dikala liang kewanitaan perempuan ini berdenyut- deyut menjepitnya. Tubuhku kudorongkan ke depan, dengan pantat terus menjadi ditekan ke dasar, membuat pangkal atas batang kejantananku melekat dengan kokoh di klitorisnya. Diah melenguh risau. Tangannya tanpa siuman memeluk tubuhku dengan punggung melengkung. Kudiamkan ia hingga agak lebih tenang, setelah itu mulailah gerakan alamiah buat coitus yang membara itu kulakukan.
Diah kembali terpekik sembari meronta dengan mulut mendesis serta melengguh. Tembakan batang kejantananku kulakukan terus menjadi kilat, dengan gerakan berubah- ubah baik dalam perihal sudut tembakannya, ataupun wujudnya dalam melaksanakan penetrasi. Kadangkala lurus, miring, pula memutar, membuat Diah betul- betul semacam orang kesurupan. Perempuan ini kelihatanya telah total kurang ingat diri. Tangannya mencengkram pundakku, kemudian tiba- tiba kepalanya terangkat ke atas, matanyaterbeliak, giginya dengan kokoh menggigit pundakku.
Ia orgasme! Gerakan keluar- masuk batang kejantananku kutahan serta cuma memutar- mutarnya, mengaduk segala liang sanggama Diah, supaya dapat memegang serta menggilas bagian- bagian sensitif di situ. Perempuan berpinggul besar ini meregang serta berkelonjotan kesekian kali, dalam tempo waktu dekat 2 puluh detik. Seluruhnya setelah itu berakhir. Mata serta hidungnya lekas kuciumi. Pipinya yang basah oleh air mata, kusapu dengan hidungku.
Badannya kupeluk terus menjadi erat, sembari berkata permintaan maaf atas kebiadabanku. Diah hanya membisu. Kami berdua silih berdiaman. Setelah itu saya mulai beraksi kembali dengan terlebih dulu mencium serta menjilati leher, kuping, pundak, ketiak dan buah dadanya. Kocokan kejantananku kumulai secara lama- lama. Kepalanya kuarahkan ke bagian- bagian yang sensitif ataupun G- Spot perempuan ini. Cuma sebagian detik setelah itu, Diah kembali risau.
Kali ini saya bangkit, mengangkut kedua pahanya ke atas serta menjulurkannya dengan lebar, kemudian menghujamkan batang perkasaku sedalam- dalamnya. Diah terpekik dengan mata terbeliak, melihat batang kejantananku yang bisa jadi jauh lebih besar dari kepunyaan suaminya itu, berulang- ulang keluar masuk diantara lubang berbulu basah miliknya. Matanya tidak ingin lepas dari situ. Kupikir, perempuan ini terbiasa buat berlaku semacam itu, bila bersetubuh. Mukanya setelah itu memandang wajahku.
“ Mas…” bisiknya.
Saya mengangguk dengan perasaan lebih terangsang oleh panggilan itu, kocokanbatang kejantananku kutingkatkan terus menjadi kilat serta kilat, sehingga badan Diah terguncang- guncang dahsyat. Pada puncaknya setelah itu, perempuan ini menjatuhkan badannya di tilam, kemudian menggeliat, meregang sembari meremas sprei. Saya ketahui ia hendak kembali merambah dikala orgasme keduanya.
Serta itu terjalin dikala mulutnya melontarkan pekikan nyaring, menanggulangi suara Krisdayanti yang lagi menyanyi di pesawat tv di samping ranjang. Pertarungan seru itu kembali usai. Saya terengah dengan badan bermandi keringat, di atas badan Diah yang pula basah kuyup. Matanya kuciumi serta hidungnya kukecup dengan lembut. Detak jantungku terasa memacu demikian kokoh. Kurasakan batang kejantananku berdenyut- denyut terus menjadi kokoh. Saya ketahui, ini dikala yang baik buat mempersiapkan orgasmeku sendiri.
Badan Diah setelah itu kubalikkan, kemudian punggungnya mulai kujilati. Ia meringik. Sehabis itu, pantatnya kubuka serta kunaikkan ke atas, sehingga lubang anusnya turut terbuka. Jilatan intensifku lekas kuarahkan ke situ, sedangkan jariku memilin serta mengusap- usap klitorisnya dari balik.
Diah kesekian kali menyentakkan tubuhnya, menahan rasa ngilu itu. Tetapi sebagian menit setelah itu, kemauan bersetubuhnya bangkit kembali. badannya lekas kuangkat serta kuletakkan di depan wc pas menghadap kaca besar yang terdapat di depannya. Ia kuminta jongkok di situ, dengan membuka kakinya agak lebar.
Sehabis itu dengan agak tidak tabah, batang kejantananku yang terus membengkak keras, kuarahkan ke kelaminnya, kemudian kusorong masuk hingga ke pangkalnya. Diah kembali terpekik. Serta pekik itu terus menjadi sering terdengar kala batang kejantananku keluar masuk dengan kilat di liang sanggamanya. Apalagi perempuan itu betul- betul menjerit berulangkali dengan mata terbeliak, sehingga saya takut suaranya dapat didengar orang di luar.
Perempuan ini kelihatannya sangat terangsang dengan gaya bersetubuh semacam itu. Tidak hanya batang kejantananku terasa lebih dahsyat menerobos serta menggesek bagian- bagian sensitifnya, ia pula dapat melihat wajahku yang tegang dalam memompanya dari balik. Serta tidak semacam tadinya, Diah kali ini dengan suara gemetar berkata ia hendak keluar.
Saya kilat mengangkut badannya kembali ke ranjang. menelentangkannya di situ, setelah itu menyetubuhinya habis- habisan, sebab saya pula lagi mempersiapkan dikala orgasmeku. Saya hendak melepas bendungansperma di kepala kejantananku, pada dikala perempuan ini merambah orgasmenya. Serta itu terjalin, dekat 5 menit setelah itu. Diah meregang keras dengan badan bergetar. Matanya yang menawan terbeliak.
Hingga orgasmeku lekas kulepas dengan hujaman batang kejantanan yang lebih lelet tetapi lebih kokoh dan merasuk sedalam- dalamnya ke liang kewanitaan Diah. Kedua mata perempuan itu kulihat terbalik, Diah meneriakkan namaku dikala spermaku menyembur kesekian kali dalam tenggang waktu dekat 8 detik ke dalam liang sanggamanya. Tangannya dengan kokoh merangkul tubuhku serta tangisnya lekas timbul. Kenikmatan luar biasa itu sudah memforsir perempuan ini menangis.
Saya memejamkan mata sembari memeluknya dengan kokoh, merasakan nikmatnya orgasme yang bergelombang itu. Ini merupakan orgasmeku yang awal serta penghabisanku dengan perempuan ini. Saya lekas berpikir buat berangkat esok ke Kalimantan, ke tempat pamanku. Bisa jadi seminggu, sebulan ataupun lebih menginap di situ. Saya tidak boleh lagi mengulangi perbuatan ini. Tidak boleh, walaupun misalnya Diah memintanya.

HAWAIPOKER | AGENPOKER | BANDARQ | DOMINO99 | JUDI POKER | BANDAR POKER | CAPSASUSUN | JUDI ONLINE | POKER | CEME | AGEN JUDI ONLINE | SAKONG | QQ | AGEN DOMINO | JACKPOT | HAWAI QQ | AGEN JUDI ONLINE TERPERCAYA | JUDI ONLINE TERPERCAYA | DAFTAR POKER ONLINE | AGEN CAPSA | AGEN CAPSUN | SITUS POKER | ADUQ | AGEN ADUQ | SITUS JUDI ONLINE | KIUKIU | AGEN JUDI TERPERCAYA | AGEN BANDARQ | BANDAR ONLINE | BANDAR66 | SITUS POKER ONLINE | AGEN DOMINO






0 Komentar