Ticker

6/recent/ticker-posts

Menikmati Tubuh Linda Sang Manager




INDOSEXASIA -  Perkenalkan namaku Roni( samaran). Saya merupakan seseorang WNI Generasi yang berdomisili di kota D di pulau B. Umurku 30 tahun. Dikala ini saya telah memiliki seseorang istri tetapi belum dikaruniai seseorang anak.


Saya dahulu sangat suka bercinta dengan wanita, tetapi cuma terbatas pada orang yang saya tahu. Serta cuma ikatan ONE NIGHT STAND, alias cinta tadi malam. Salah satu pengalamanku mau kubagikan pada para penggemar web lensa69. Serta cerita ini betul- betul saya natural. Hendak saya coba menceritakannya.


Cerita ini diawali dari kepindahanku ke Kota D di pulau B dari Kota S di Pulau J pada tahun 2007. Waktu itu saya baru berusia 25 tahun. Sebab alibi buat mengisi kekosongan di cabang industri, saya dipindah tugaskan.


MENANGKAN KESEMPATAN MERAIH UANG SEBESAR Rp 40.000.000 SEKARANG JUGA DARI MEGA JACKPOT DI PERMAINAN ( QQ,POKER,CAPSA,SAKONG ) DENGAN MINIMAL DEPOSIT | WITHDRAW Rp 20.000 !! || HANYA DI

>> HAWAIPOKER <<


Dikala itu saya bekerja di salah satu industri garment terbanyak di Indonesia. Serta tugasku merupakan bagaikan marketing yang tugasnya mengorder ataupun menawarkan benda baru ke toko- toko besar ataupun kecil tercantum departement store semacam Matahari, dll.


Sesuatu hari saya menawarkan order ke suatu dept store yang lumayan terkenal di kota D tersebut. Buat menemui bagian pembelian saya wajib melewati bagian resepsionist terlebih dulu. Pada hari itu saya kaget sebab yang melindungi bagian tersebut tidak kukenal( sebab umumnya merupakan orang lain).


Orangnya menawan, berwajah oval, manis, berkulit kuning langsat serta sangat lembut. Bodinya yang sangat bahenol, pinggang yang ramping, berpantat besar, dengan buah dada berdimensi kira- kira 36C. Berambut gelap panjang. Siapapun lelaki yang melihatnya tentu( saya jamin) menelan ludah dengan sex appealnya yang besar serta sangat menarik itu.




“ Selamat siang”, sapaku.


“ Oh ya, selamat siang,” jawabnya dengan suara yang halus.


“ Aku mau berjumpa dengan Ayah Andrie di bagian pembelian,”


Kataku berikutnya sembari mataku memandang tanpa berkedip ke wajah menawan serta dadanya, kebetulan waktu itu ia mengenakan blazer dengan kaus dalam yang berleher sangat rendah sehingga aku dapat memandang belahan payudaranya yang besar itu.


“ Baik tunggu sebentar,” jawabnya sembari tersenyum manis, setelah itu ia menelepon bagian pembelian.


Sembari menunggu itu tidak henti- hentinya saya mencuri- curi pandang ke arahnya. Sedangkan ia, kayaknya merasa kuperhatikan, jadi sesekali tersenyum sembari menulis suatu di novel di hadapannya. Tidak lama setelah itu telepon berdering serta saya dipersilahkan masuk.


Sehabis berakhir urusan tersebut, saya keluar melewati meja resepsionist, serta kulihat wanita( sebut saja Ayu) semacam biasa melindungi meja tersebut.


“ Hallo Yu,” sapaku.“ Eh, Pak Roni, dari tadi, Pak?” sahutnya.“ Iya. Ini telah berakhir order. Eh Yu, tadi yang jaga meja ini siapa sih?” tanyaku langsung. Kami telah lumayan akrab sebab keseringanku ke tempat ini.“ Oh, itu tadi Bunda Linda, Pak, Manager Marketing yang baru, mengapa sih? Kok nanya- nanya?” tanyanya sembari tersenyum. Belum pernah kujawab, Sang Menawan Linda timbul. Saya jadi sedikit salah tingkah.


Terlebih..“ Bu, ini lho ditanyain sama Pak Roni,” Ayu langsung nyerocos hingga wajahku terasa panas. Pendek cerita kami berkenalan serta silih memanggil nama sebab setelah itu kuketahui usianya cuma terpaut setahun lebih tua dariku serta telah menikah dengan orang yang umurnya terpaut jauh darinya.


Ayu pernah berkata jika Linda baru saja kesekian tahun. Serta sembari bercanda saya berkata jika saya ingin diajak makan- makan. Serta ia menyanggupinya. Pertemuan kami berikutnya cuma di dekat pekerjaan serta ngobrol masalah- masalah ringan.


Sesuatu hari, dikala suaminya berdinas di Jakarta, saya diundang ke rumahnya. Sehabis saya tanya alamatnya, malam harinya saya tiba ke rumahnya. Saya disambutnya dengan mengenakan pakaian kaus tipis tanpa lengan serta celana yang luar biasa pendek, sampai lekuk badannya nampak jelas, terlebih belahan pantat di dasar celananya kian merangsangku.


Kaget pula memandang penampilannya yang seseksi itu, meski ia nampak mengenakan BH, tidak urung membuat nafsu serta adik kecilku merinding. Di rumahnya dikala itu cuma ia sendiri ditemani pembantunya yang lebih kerap terletak di dapur semacam dikala itu. Sehabis sekian menit mengobrol, kami mulai silih mendekatkan diri.


Hingga dadanya yang besar serta kenyal itu memegang dadaku. Serta mulai berpelukan serta silih mencium pipi, setelah itu saya lanjutkan dengan mencium lehernya.“ Kalian nyatanya bandel pula ya, Ron,” katanya sembari tertawa kecil dikala aku ciumi leher jenjangnya.“ Habis kalian sangat menggairahkan serta menggemaskan,” jawabku sembari melancarkan serbuan.


Saya berupaya menembus wilayah dadanya, tetapi ditepisnya. Serta katanya jangan nanti tidak lezat, kan ia telah menikah. Jadinya saya wajib menahan nafsuku malam itu meski pada dikala penisku telah sangat keras saya pernah menggesek- gesekkan ke perutnya sembari kami berdiri berpelukan.


Malam itu saya kembali dengan hampa serta menahan gejolak nafsuku. Sesampainya saya di rumah, saya langsung bermasturbasi sembari membayangkan bersetubuh dengannya. Semenjak hari itu, apabila berjumpa perilaku kami biasa saja, cuma silih menyapa, apalagi kurasakan ia agak menjauhiku.


Serta perihal ini berlangsung lumayan lama hingga kira- kira 8 bulan lamanya. Saya telah nyaris melupakan niatku buat bercinta dengannya hingga sesuatu dikala terdapat kabar di pagerku( dikala itu saya belum memiliki Hp) berbentuk undangan ke rumahnya buat menepati janjinya waktu itu ia mengajakku makan memperingati ulang tahunnya.


Saya telepon ia serta membuat janji( waktu itu suaminya bertugas ke luar kota). Malam itu pkl. 10. 00 saya tiba ke rumahnya. Kembali saya disambut dengan baju yang menggairahkan berbentuk kaus tipis tanpa lengan serta rok pendek yang memperlihatkan cetakan pantat serta celana dalamnya.


Dari pengalamanku yang kemudian saya tidak mau ceroboh lagi.“ Kok sepi- sepi saja, Lin? Suamimu berapa hari tugas ke Jakarta?” tanyaku sehabis sebagian lama berbasa- basi.“ 4 hari. Eh, ingin minum, Ron?” tanyanya.“ Boleh,” jawabku.“ Saya tadi bisa pinjaman VCD dari temanku di kantor, serta saya belum nonton.


Kalian telah sempat nonton tidak?” Tanyanya sembari meletakkan minuman serta setelah itu melangkah ke almari dekat sofa tamu.“ Mana sih, saya amati dahulu judulnya,” jawabku.


Sehabis diserahkannya, saya cermat ketiga VCD tersebut, serta saya agak kaget sebab salah satunya ialah film mandarin yang XX alias semi.“ Yang 2 telah nonton sih, pula yang mandarin ini, Hanya waktu itu belum berakhir. Kalian pengen nonton yang mana? Jika saya yang mandarin ini aja,” jawabku sembari berpikir buat mencumbunya.“ Boleh aja, tetapi VCD playernya terdapat di kamarku,” jawabnya. Pikirku, wah peluang, nih.


“ Gak apa- apa kan, emangnya tidak boleh?” tanyaku memancing.“ Boleh sih, ayo, kita ke kamarku,” jawabnya sembari ngeloyor ke kamarnya di dekat ruang tamu. Setibanya di dalam, kami berdua duduk manis di depan TV- nya sembari menyaksikan. Kemudian saya berupaya buat melingkarkan tanganku ke pundaknya.


Ia tidak bereaksi. Kemudian saya kian berani buat membelai kepala serta rambutnya yang panjang serta lembut. Ia Hanya tersenyum saja saya perlakukan demikian. Kemudian kusibakkan rambut di dekat lehernya serta saya cium lama- lama sembari menjilatnya pelan.





“ Ih, geli, Ron” katanya sembari bergidik.“ Tenang aja, kalian nikmati ya,” jawabku. Saya mencumbunya dengan sangat pelan.


Mulai dari lehernya, setelah itu saya turun ke pangkal lengannya. Saya terus mencium serta menjilatinya lama- lama sedangkan tanganku senantiasa membelai rambutnya serta yang satu membelai tangannya, tanpa saya berupaya buat membuka pertahanannya yang manapun.


Linda kian lama kian menggelinjang sebab kegelian serta nafsunya yang lama- lama mulai naik.“ Ron, saya matikan saja ya VCD- nya? Toh pula tidak ditonton, sekaligus lampunya ya,” katanya sembari sedikit terengah.


“ Oke,” jawabku. Kemudian ia mematikan VCD, Televisi, serta lampu kamar tersebut, sehingga suasana remang, serta cuma diterangi oleh lampu teras. Walaupun demikian saya masih dapat memandang jelas seluruhnya.


Sehabis itu saya kembali melanjutkan aksiku. Saya menciumi bibirnya sembari membuka bajunya, sehingga ia cuma mengenakan BH serta roknya.


Setelah itu sehabis sebagian lama;“ Ron, kita buka aja seluruh ayo,” ajaknya.“ Ayuk,” jawabku, setelah itu kami mulai melepas busana kami satu- satu sembari berdiri di tempat tidurnya.


Terpampanglah panorama alam indah di depanku. Linda yang tersenyum manis, dengan buah dada berupa bundar sempurna serta nampak sangat kenyal dan wujud badan yang mirip gitar spanyol, ramping, pinggul yang besar, serta paling utama wilayah kemaluannya yang tidak sangat rimbun, tetapi nampak berbulu sangat halus. Setelah itu saya mulai mencium bibirnya lembut sekali. Kunikmati ciuman- ciuman itu.


Setelah itu saya mulai turun menciumi leher jenjangnya yang lembut sembari tangan kiriku mulai memainkan susunya yang kenyal serta mulai membeku, meremas serta memutar- mutar putingnya, sedangkan tangan kananku meraba bagian pantatnya yang pula besar serta padat.


Sehabis sebagian lama ia mulai bereaksi dengan membelai tubuhku dari punggung hingga setelah itu menyudahi di kemaluanku. Linda mulai membelai- belai adikku sembari mengocoknya lama- lama. Wah, sensasinya sangat luar biasa.“ Ron, burungmu keras sekali,” katanya sembari mendesah.


Saya tidak menjawabnya sebab padat jadwal mencumbunya. Setelah itu lambat- laun saya rebahkan ia di tempat tidur.


Serta saya mulai mencium serta menjilat turun dari bibir, leher hingga pada bagian susunya yang kuhisap serta kujilati lama- lama. Saya menikmati susunya yang besar serta lembut banget. Saya jilatin wilayah dekat putingnya, sembari menyedot.


Lumayan lama saya menikmati susunya sembari saya remas- remas. Rasanya saya mau menelan seluruhnya bulat- bulat. Linda menggelinjang sembari menghasilkan suara erangan serta desisan dari mulutnya.


Sembari menikmati cumbuanku, tangannya tidak lepas dari penisku, membelainya lembut. Lama- lama saya kian turun hingga pada perutnya, setelah itu ke selangkangannya. Saya mulai mencari wilayah pribadinya yang ditumbuhi bulu- bulu yang gelap, lembut serta tidak sangat rimbun.


Saya terus menjilati hingga pada kemaluannya. Linda kian menggelinjang serta mendesis.“ Oh.. terus, Ron,.. lezat sekali.. teruskan..,” desisnya. Hingga saya kian menjilati kemaluannya hingga pada klitorisnya, kurasakan badannya kian mengencang. Kuhisap lembut klitoris serta kemaluannya yang berbau khas, sampai kian menaikkan gairahku.


Kemaluan itu kian lama kian basah, menghasilkan lendir yang saya jilat hingga puas. Pahanya mulai bergerak menjepit kepalaku, sehingga saya merasakan kemulusannya membelai pipiku.


Tidak kurang ingat saya pula sebentar- sebentar menjilat paha serta wilayah di dekat vaginanya itu. Setelah itu saya sedikit mengangkut pantatnya supaya saya dapat menjilati lubang anusnya. Sedangkan itu, tangannya bergerak- gerak mencapai kepalaku sembari menekan kian dalam.


Kembali saya mainkan lidahku di lubang vaginanya itu, masuk serta keluar. Linda kian menggelinjang serta kurasakan tubuhnya kian mengejang. Sehabis saya puas memainkan kemaluannya, saya memintanya ubah mencumbuku.


Hingga saya direbahkan dengan posisi ia di atasku. Linda mulai menciumiku dari bibir, leher, serta kesimpulannya ke susuku sembari tangannya membelai lembut penis serta testisku. Ciuman lembutnya sangat merangsangku sehingga adikku kian keras serta memanjang.


( Oh ya, penisku tidak sangat besar, tetapi sangat kencang serta keras). Lumayan lama ia menciumi wilayah dadaku, setelah itu ia terus menjadi turun, serta tidak disangka( sebab saya menikmati sembari memejamkan mata) ia mulai menjilat lembut kepala penisku.


Saya pernah kaget sebab tidak menyangka ia hendak melaksanakannya. Saya nikmati saja jilatan- jilatan lembutnya. Setelah itu ia mulai mengulum penisku pula sangat lembut. Wah, rasa serta sensasinya sangat luar biasa. Saya bagai terbang besar ke awan. Tidak hingga di sana, ia pula menjilati testisku yang kian merangsangku.


Lumayan lama ia menjilati penisku, hingga terdapat sedikit cairan yang keluar serta ia menjilatinya hingga habis. Setelah itu ia lama- lama bangun serta duduk di atas penisku. Pelan- pelan ia menggesek- gesekkan vaginanya di atas penisku.


Vaginanya yang lembut serta licin serasa memijit penisku yang keras.“ Oh,.. enaknya.. ss. ss. ss,” erangnya.


Tidak lama setelah itu badannya nampak mengejang serta roboh ke dadaku.“ Luar biasa, Ron, saya hingga dapat keluar,” bisiknya sembari terengah. Setelah itu kami bercumbu lagi, serta ia mengulangi perihal yang sama hingga 2 kali, serta dalam waktu pendek ia hadapi orgasme kembali, sedangkan saya belum merasa mau keluar.


Hingga saya nikmati saja permainannya, hingga setelah itu..“ Saya masukin ya adikku,” kataku.“ Ya, tetapi pelan- pelan ya,“ jawabnya. Hingga saya mulai memasukkan penisku ke lubang senggamanya lama- lama hingga seluruhnya masuk.


Setelah itu saya mulai menggoyang lambat- laun, kian lama kian kilat. Sedangkan ia mengerang serta mengejang Di antara desahan serta deru napasnya saya kian memesatkan gerakanku, hingga kesimpulannya..“ Lin.. saya.. ingin.. kell.. luar,” serta tersemburlah spermaku ke liangnya.


Setelah itu saya lemas. Saya perkenankan penisku terletak di vaginanya sebagian lama sembari merasakan denyutan- denyutannya yang menggairahkanku. Kami mengulangi game kami sebagian kali malam itu.


Hingga waktu menampilkan jam 02. 00 pagi. Serta saya kembali dengan kepuasan serta sedikit penyesalan( maklum istri orang). Keesokan siang, saya kembali ke rumahnya, serta bercinta hingga malam. Setelah itu kami berangkat makan malam semacam yang dijanjikannya.




HAWAIPOKER | AGENPOKER | BANDARQ | DOMINO99 | JUDI POKER | BANDAR POKER | CAPSASUSUN | JUDI ONLINE | POKER | CEME | AGEN JUDI ONLINE | SAKONG | QQ | AGEN DOMINO

Posting Komentar

0 Komentar